idnewsonline.com, SURAKARTA — Tim peneliti dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil mengungkap temuan baru terkait manuskrip mushaf Al-Qur’an peninggalan Kasunanan Surakarta yang diperkirakan berusia lebih dari 200 tahun.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Ainur Rhain, M.Th.I., ini mengkaji manuskrip berkode MAA.001 yang tersimpan di Perpustakaan Masjid Agung Kasunanan Surakarta. Hasil kajian ilmiah tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional ZAD Al-Mufassirin Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026.

Berdasarkan analisis filologi, kodikologi, paleografi, dan ilmu qira’at, manuskrip ini diperkirakan ditulis pada rentang tahun 1780–1820 Masehi. Dalam proses penelitian, tim menemukan sejumlah kesalahan penyalinan (scribal errors) berupa perubahan huruf dan harakat pada Surah At-Taubah ayat 81, 83, dan 84.
Dr. Ainur Rhain menegaskan bahwa kekeliruan pada ayat-ayat tersebut murni disebabkan oleh kesalahan teknis saat penyalinan, bukan berasal dari perbedaan qira’at yang sahih.
“Warisan manuskrip Al-Qur’an Nusantara bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga sumber pengetahuan yang sangat berharga untuk memahami perjalanan transmisi Al-Qur’an di Indonesia,” ujar Ainur, Kamis (23/7/2026).
Selain scribal errors, penelitian ini mencatat adanya percampuran penggunaan rasm imlā’ī dengan rasm ‘Utsmānī serta inkonsistensi ortografi. Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa standardisasi penyalinan mushaf Al-Qur’an di Nusantara pada akhir abad ke-18 belum berlangsung secara seragam.
Keberadaan catatan pinggir (marginal notes) pada manuskrip MAA.001 menunjukkan bahwa mushaf ini tidak sekadar digunakan untuk ibadah. Naskah kuno ini juga berfungsi sebagai media pendidikan, sarana tashih, instrumen legitimasi religius Kesunanan Surakarta, sekaligus pusat transmisi ilmu keislaman pada zamannya.
Ainur berharap hasil kajian ini dapat menjadi acuan bagi akademisi, filolog, dan lembaga pelestarian budaya dalam menyusun edisi kritis manuskrip serta merumuskan kebijakan konservasi naskah kuno di Indonesia.
Temuan ini sekaligus membuktikan bahwa tradisi keilmuan Al-Qur’an di tanah Jawa telah berkembang dinamis dan memiliki jaringan intelektual yang kuat dengan pusat-pusat keilmuan Islam dunia sejak akhir abad ke-18.
