idnewsonline.com, SURAKARTA — Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat transformasi pembelajaran digital dan penjaminan mutu akademik melalui pemanfaatan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) serta penerapan siklus Closed-Loop Plan-Do-Check-Act (PDCA). Langkah ini diwujudkan melalui workshop yang diikuti sebanyak 22 dosen di Ruang Siti Badilah, Perpustakaan UMS Kampus 2, Rabu (30/9/2026).
Melalui pelatihan tersebut, Prodi Arsitektur UMS menargetkan peningkatan penggunaan platform SPADA hingga 80–90 persen di kalangan pengajar. Langkah strategis ini bertujuan membangun ekosistem pembelajaran yang terintegrasi, interaktif, adaptif teknologi, serta berstandar mutu berkelanjutan.
Ketua Prodi Arsitektur UMS, Dr. Ir. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T., GP., menjelaskan bahwa optimalisasi SPADA mendukung efisiensi pengelolaan kelas digital, penyusunan materi, hingga evaluasi capaian akademik.

“Harapannya dengan workshop ini, Bapak-Ibu dosen minimal sudah memiliki course dan memahami proses mulai dari memasukkan materi hingga penilaian terhadap CPMK dan CPL,” ujar Nur Rahmawati.
Ia menambahkan, dosen juga mendapatkan pendampingan dalam mengintegrasikan mata kuliah yang diampu secara tim (team teaching). Penggabungan kelas digital memungkinkan materi dan penilaian dikelola secara padu. Sementara itu, integrasi siklus Closed-Loop PDCA (perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut) memastikan materi dan metode pengajaran dievaluasi secara berkala setiap semester.
Dari sisi teknis pembelajaran, Dosen Arsitektur UMS, Ar. Dody Irnawan, S.T., M.T., IAI., menyampaikan bahwa skema Learning Management System (LMS) memberikan fleksibilitas tinggi bagi mahasiswa untuk mengakses materi dari mana saja via ponsel pintar.
“Pembelajaran berbasis website ini sebenarnya sangat efektif. Mahasiswa tidak harus membawa buku ke mana-mana, tetapi cukup menggunakan satu alat yang bisa dibuka di mana pun. Apalagi dengan materi interaktif, mereka akan lebih mudah mengikuti pembelajaran,” jelas Dody.
Dalam konteks pendidikan arsitektur yang menitikberatkan pada desain dan visualisasi, para dosen juga diarahkan memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif. Dody menekankan pentingnya kreativitas pengajar agar materi dapat diakses mahasiswa secara mendalam dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan zaman.
