Hari Anak Nasional 2026: Dosen UMS Imbau Orang Tua Batasi Gadget pada Anak

idnewsonline.com, SURAKARTA — Dosen Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Junita Dwi Wardhani, M.Ed., menekankan pentingnya pengasuhan (parenting) maksimal dan pembatasan gadget bagi anak usia dini di era digital. Imbauan ini disampaikan dalam rangka memperingati Momen Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Rabu (22/7/2026).

Menurut Junita, perkembangan teknologi yang pesat menjadi pemicu utama perubahan karakter anak-anak masa kini, atau yang dikenal sebagai Generasi Alpha. Anak-anak dinilai cenderung menjadi individualis dan menganggap teknologi sebagai kebutuhan primer, bukan lagi sekadar alat bantu.

“Adanya teknologi yang berkembang pesat dan mudah dijangkau oleh anak dapat memengaruhi emosi generasi saat ini,” ujar Junita saat memberikan keterangannya di Surakarta.

Ia menjelaskan bahwa pada fase usia dini (golden age), proses belajar anak idealnya dipenuhi oleh bermain serta interaksi langsung untuk mengasah kemampuan sensorik dan motorik. Namun, hadirnya teknologi yang bersifat satu arah justru ‘menidurkan’ alat penginderaan anak dan menghambat regulasi emosi mereka.

Kondisi tersebut sering kali memicu ketantruman ketika akses bermain gadget dibatasi. Hal ini terjadi karena media digital memberikan stimulus menyenangkan tanpa respon menghakimi, sementara kontrol emosi anak belum berkembang optimal.

Untuk mengatasi dampak negatif tersebut, Junita mendorong adanya kesepakatan tertulis maupun lisan antara orang tua dan anak mengenai durasi penggunaan perangkat elektronik. Selain itu, orang tua diimbau menyiapkan permainan sederhana yang mengolah indera agar pola pikir anak terbentuk lewat pengalaman empiris.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya edukasi parenting bagi para orang tua Generasi Alpha, serta sinergi yang kuat antara guru di sekolah dan orang tua di rumah dalam membentuk karakter anak.

Bagi anak yang sudah menunjukkan gejala kecanduan, pendekatan kultural melalui komunikasi intensif dan limpahan kasih sayang dinilai jauh lebih efektif dibandingkan sekadar pembatasan jam main.

“Anak yang mendapat kasih sayang dan perhatian lebih akan merasa nyaman untuk menceritakan dan menggali informasi pada orang terdekatnya di keluarga, terutama kepada orang tuanya, sehingga dirasa tidak perlu mencari tempat pelampiasan lain,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *