Pentingnya Perawatan Kulit Pasien Kusta Menurut Dekan FK UMS

idnewsonline.com, SURAKARTA — Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE., menekankan bahwa perawatan kulit merupakan pilar penting dalam tata laksana komprehensif pasien kusta. Upaya ini dinilai krusial bukan sekadar sebagai terapi pendukung, melainkan untuk mencegah disabilitas permanen dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pernyataan tersebut disampaikan Flora saat menjadi narasumber dalam kegiatan Leprosy Prevention and Integrated Management Approach (LEPRIMA) 2026 yang berlangsung pada 30-31 Mei 2026 di Cibinong, Bogor. Dalam simposium nasional bertema “Leprosy in The Modern World: From Science to Stigma” tersebut, ia membawakan materi mengenai promosi kesehatan kulit optimal bagi penderita kusta.

Dampak Kerusakan Kulit pada Pasien Kusta

Flora yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen Indonesia (KSMHI) menjelaskan bahwa pasien kusta kerap menghadapi berbagai masalah kulit. Mulai dari kulit kering berat (xerosis), hilangnya sensasi protektif, luka kronis, hingga infeksi sekunder akibat reaksi kusta.

“Penanganan kusta tidak cukup hanya berfokus pada eliminasi bakteri penyebab penyakit. Upaya menjaga kesehatan kulit, mencegah luka kronis dan disabilitas, serta mempertahankan kualitas hidup pasien juga menjadi bagian penting dari pelayanan yang berpusat pada pasien,” ujar Flora saat dikonfirmasi ulang pada Jumat (5/6/2026).

Lebih lanjut, kerusakan sawar kulit pada penderita kusta membuat kulit menjadi rentan trauma dan pecah-pecah. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, risiko infeksi berulang dan munculnya ulkus kronis dapat memicu kecacatan fisik yang permanen.

Langkah Pencegahan dan Edukasi Keluarga

Meski berisiko tinggi, berbagai komplikasi tersebut sebenarnya dapat diantisipasi melalui langkah-langkah mandiri yang sederhana namun konsisten. Flora menyarankan perawatan rutin seperti penggunaan pembersih yang lembut, pengaplikasian pelembap yang sesuai, serta pemeriksaan mandiri secara berkala pada area kulit yang berisiko.

Selain tindakan medis mandiri, edukasi kepada keluarga pasien memegang peranan vital. Keterlibatan keluarga dinilai mampu meningkatkan kemampuan perawatan diri pasien sekaligus mempercepat deteksi dini jika muncul komplikasi klinis.

Melawan Stigma Sosial Lewat Pendekatan Humanis

Di samping aspek klinis, tantangan terbesar yang masih dihadapi oleh penyandang kusta hingga saat ini adalah stigma sosial di masyarakat. Oleh karena itu, penanganan kusta juga memerlukan pendekatan yang humanis agar psikososial pasien tetap terjaga.

“Peningkatan kualitas hidup pasien tidak hanya melalui terapi medis, tetapi juga melalui upaya menjaga fungsi tubuh, kemandirian, rasa percaya diri, dan martabat pasien sebagai individu,” pungkas Flora.

Melalui slogan “Skin Care Saves Skin, Function, and Dignity,” simposium ini menegaskan kembali komitmen para ahli untuk mengintegrasikan perawatan kulit sebagai langkah konkret dalam mengurangi stigma dan mengembalikan martabat para pasien kusta di era modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *