
Idnewsonline.com, Berganti tahun bagi orang yang mengerti arti kehidupan sesungguhnya sama halnya dengan berganti hari. Tak ada yang harus dilebih-lebihkan. Yang tinggal di perkotaan dan di pedasaan; yang tinggal di darat dan di perairan; yang tinggal di belahan Barat dan belahan Timur serta orang kaya dan orang miskin sama-sama memiliki jumlah waktu yang sama, yakni 24 jam.
Yang membedakan antar mereka adalah kejadian dan peristiwa kehidupan mereka di waktu yang sama. Ada yang mengisi dengan ketaatan dan kemanfaatan. Ada yang mengisi dengan kemaksiatan dan kemudharatan. Ada yang cenderung kepada kebaikan dan kemaslahatan dan ada yang cenderung kepada keburukan dan kerusakan. Muncullah orang-orang yang syukur dan bahagia bagi mereka yang selalu dalam ketaatan dan kebaikan dan orang-orang yang gundah dan menyesal bagi mereka yang belum mampu keluar dari kedurhakaan dan keburukan.
Mengintropeksi dan menghisab kekurangan dan kelemahan diri sebenarnya tidak perlu menunggu akhir tahun atau pergantian tahun karena bulan dan matahari terbit -terbenam tak menunggu sepanjang itu. Cukup dalam hitungan jam kedua benda langit tersebut membawa perubahan; Malam berubah menjadi siang dan siang berganti dengan malam. Inilah waktu perubahan dan saat untuk memberi perubahan!
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran, 3:190)
“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan…” (QS. Al Fathir, 35:13)
Bergulirnya malam dan siang bukan sekedar pergantian waktu semata tapi juga perjalanan hidup alam semesta -khususnya- manusia dari satu kejadian kepada kejadian lainnya yang menggambarkan Keagungan dan Kekuasaan Allah Ta’ala. Kejadian-kejadian tersebut mengenalkan sang Pencipta dan mendekatkan hamba pada-Nya hingga bertambah keimanannya.
Contoh sederhana, peristiwa terbangunnya seseorang dari tidurnya. Bangunnya seseorang dari tidurnya bukanlah bangun sembarangan tanpa makna. Itu nikmat Allah yang tak terkira nilainya, tidak bisa dibeli atau ditukar dengan apapun juga. Orang itu baru saja bangun dari kematiannya karena tidur dianggap kematian kecil oleh ajaran Islam. Itu adalah tanda-tanda Kebesaran dan Kekuasaan Allah Ta’ala,
”Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (QS. Az Zumar:39:42)
Sebab itu redaksi doa bangun tidur seorang muslim berbunyi, “Alhamdulillahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilahin nusyuur”, yang artinya “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mati kami (tidur kami), kepada-Nya tempat kembali”. Kalimat syukur dan bahagia.
Ada yang unik dalam redaksi doa sebelum dan sesudah tidur. Bila dalam doa sebelum tidur subyek pelakunya adalah ‘Aku’: “Dengan namu Ya Allah ’Aku’ hidup dan ‘Aku’ mati’ maka dalam doa setelah tidur subyek pelakunya adalah ‘Kami’. “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mati kami (tidur kami), kepada-Nya tempat kembali”.
Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan kepada kita melalui doa-doa tersebut, “Kalau urusan mati urusan pribadi, jangan ajak orang lain tapi kalau urusan hidup ajaklah orang lain karena kamu tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain”
Artinya kata ‘kami’ mengandung Prinsip Takaful (saling melindungi) dan Ta’awun (saling menolong) sesama manusia lainnya. Mendorong manusia muslim menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat bagi manusia lain dan senantiasa membawa kebaikan dan kemanfaatan. Bukankah muazin telah membangunkan Anda lalu Anda juga membangunkan Istri dan anak-anak untuk sholat Subuh? Itulah keindahan Islam!
Bangunlah seperti bangunnya Matahari yang memberi cahaya dan sinar kehidupan pada alam semesta…
Bangunlah seperti seekor ayam Jago saat berkokok membangunkan manusia untuk bertaqarrub kepada Allah sebagai wujud syukur.
“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR. Al Hakim)
Wallahu’alam, semoga bermanfaat!
Irwan Hernanda
Penulis Merupakan Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Abadijaya Periode 2022 – 2027
